JAKARTA, AF – Unilever mengumumkan rencana penggabungan unit bisnis makanannya dengan perusahaan bumbu asal Amerika Serikat, McCormick. Kesepakan tersebut melahirkan perusahaan senilai sekitar US$65 miliar (Rp 1.100 triliun) dan Unilever sebagai pemegang saham 65%.
Transaksi ini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah industri makanan dan minuman global, serta langkah strategis terbesar CEO Fernando Fernandez sejak menjabat pada Maret 2025.
Mengutip keterangan tertulis Unilever dan juga cnbc.com, Selasa (31/3/2026), kesepakatan ini terjadi setelah tahun lalu Unilever memisahkan bisnis es krimnya, termasuk merek Ben & Jerry’s dan Magnum.
Meskipun unit makanan Unilever dikenal memiliki margin tinggi, pertumbuhan penjualannya tertinggal dibanding bisnis produk pribadi dan kecantikan. Hal ini membatasi target pertumbuhan grup 4%-6% dalam jangka dekat.
Investor sempat menekan perusahaan untuk melepas bisnis makanan setelah terungkap pada 2022 bahwa aktivis miliarder Nelson Peltz telah mengambil saham di Unilever, yang terkait dengan pergantian CEO sebelumnya.
Fernandez, mantan kepala keuangan Unilever, diangkat untuk menyederhanakan portofolio perusahaan. Kesepakatan akan menggunakan struktur Reverse Morris Trust (RMT) yang menawarkan keuntungan pajak. Dalam skema ini, Unilever akan memisahkan unit makanannya dan menggabungkannya dengan McCormick, pemilik merek saus Cholula.
Unilever akan memegang 65% saham di perusahaan gabungan, setara US$29,1 miliar, dan menerima US$15,7 miliar tunai. Nilai unit makanan Unilever diperkirakan US$45 miliar, sementara McCormick sekitar US$21 miliar. Beberapa aset tertentu, termasuk operasi Unilever di India, dikecualikan dari kesepakatan.
Analis dari RBC James Edward Jones mengkritik struktur kesepakatan: “Mengapa Unilever melepas bisnis yang didominasi dua merek utama, Knorr dan Hellmann’s, dengan kontrol minimal dan hanya menyisakan 55% saham di perusahaan makanan gabungan? Ini terlihat kurang menguntungkan bagi pemegang saham.”
Sementara itu, Chris Beckett, analis consumer staples di Quilter Cheviot, menyebut, “Kesepakatan ini akan transformatif bagi McCormick, tetapi bersifat inkremental bagi Unilever. McCormick mendapatkan skala global dan distribusi yang lebih luas, khususnya di sektor bumbu, serta potensi pertumbuhan penjualan dari merek-merek Unilever.”
Kesepakatan ini juga mendukung program efisiensi global Unilever sejak 2024, yang ditargetkan menghemat sekitar 800 juta euro dalam tiga tahun. Program ini termasuk pembekuan perekrutan global selama tiga bulan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. [AF/PR]
Be the first to comment