Bantu UMKM, “Kopdar” Cari Solusi Modal Kerja Pengrajin Aluminium

Berbagai produk aluminium dan logam sejenis (agrifood.id)

Bogor, Agrifood.id – Modal kerja yang terbatas menjadi salah satu persoalan dalam produksi aneka kerajinan dan peralatan masak dari aluminium. Koperasi Simpan Pinjam Dia Artha Rahardja (Kopdar) berupaya mencari solusi atas kendala yang dihadapi para pengrajin “kaleng” tersebut.

Baca : Wisata Kampung: Ampas Singkong Jadi Saus, Pakan, dan Obat Nyamuk

Sektretaris Kopdar Benny Seman menjelaskan kreativitas dari para pengrajin aluminium di kawasan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebenarnya sudah cukup bagus. Hal itu karena usaha tersebut dirintis secara turun-temurun dalam dua atau tiga dekade terakhir. Seperti diketahui, beberapa desa di Kecamatan Citeureup, Bogor, merupakan sentra produksi berbagai kerajinan aluminium dan logam sejenis, seperti oven, loyang, cetakan kue, dandang, serta berbagai peralatan masak lainnya.

Baca : Meningkat, Kebutuhan Garam Industri Mamin 2021 Capai 743.000 Ton

“Kualitas dan keahlian pengrajin ini sudah teruji secara turun-temurun. Dalam tiga tahun terakhir, kami berinteraksi cukup dekat dan modal usaha menjadi salah satu kendala dari para pengrajin,” ujar Benny yang berpengalaman dalam pemberdayaan masyarakat melalui koperasi.

Selain modal kerja, kata Benny, Kopdar juga tengah menyiapkan beberapa program pemberdayaan para pengrajin skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa meningkatkan produktivitasnya.
“Ada beberapa program kerja yang sedang disiapkan oleh tim dalam koperasi. Ini digodok untuk menjawab kesulitan dari para pengrajin,” jelasnya, Minggu (10/5/2021).

Baca : Kemitraan PT Djuara Aluminium Nusantara dengan Pengrajin Terus Ditingkatkan

Sementara itu, sekalipun stagnan akibat pandemi, produksi dan permintaan dari pasar masih tetap ada.
Sandria, pengrajin loyang di Desa Gunung Sari, Citeureup, mengakui penjualan yang menurun sejak awal pandemi. Penurunan yang drastis dari berbagai produk aluminium itu bisa mencapai 50% dari kondisi normal. Namun dia meyakini bahwa permintaan segera meningkat ketika pandemi berakhir.
”Menurun tajam sejak pandemi, tetapi kebutuhan untuk memasak atau membuat kue kan pasti tetap ada. Modal usaha menjadi salah satu kendala dan jika kembali normal maka perlu untuk peningkatan produksi,” kata Sandria yang sudah tujuh tahun memproduksi loyang dan aneka produk aluminium.

Ilustrasi pengrajin aluminium (Ist)

Sandria yang biasa disapa Aleks ini menjelaskan dalam kondisi normal biasanya mengirim 500 set loyang setiap dua minggu. Tidak saja di Jabodetabek, tetapi juga melayani hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain loyang, dia juga memproduksi produk lainnya seperti roaster (alat panggang), cetakan kue, cetakan lontong dan berbagai aneka alat dari aluminium lainnya.

Hal yang sama juga dialami para pengarjin kaleng atau logam di kawasan Tarikolot, Citeureup, Bogor. Tarikolot memang sudah lama dikenal sebagai kawasan kerajinan logam, stainless, dan aluminium atau seng. [AF-03] agrifood.id@gmail.com

Agrifood adalah portal media pangan dan seputar industri makanan/minuman. Selain sumber informasi, Agrifood juga melayani berbagai jasa dan aktivitas, seperti komunikasi dan promosi produk atau komoditas untuk pengembangan industri, penguatan brand/merek/citra dan berbagai kerja sama lainnya. Info lebih rinci bisa hubungi 08161408154

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*