Puasa dan Lebaran, Industri Mamin Raup Omzet Rp 150 Triliun

Keripik singkong yang siap dipasarkan.

Jakarta, Agrifood.id – Industri makanan dan minuman makanan dan minuman (mamin) olahan nasional diprediksi meraup omzet Rp 150 triliun selama Puasa dan menjelang Lebaran 2019, naik 30% dibandingkan bulan biasa. Puasa dan Lebaran menjadi momentum yang ditunggu-tunggu industri, karena biasanya terjadi lonjakan permintaan untuk produk-produk mamin.

“Puasa dan lebaran selalu memberikan dampak positif terhadap penjualan mamin, karena produk mamin menjadi barang yang paling banyak dicari konsumen. Produk yang paling laris adalah biskuit, wafer, jus kemasan, dan sirup,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman di Jakarta, belum lama ini.

Adhi mengungkapkan, hampir semua anggota Gapmmi melaporkan adanya kenaikan penjualan sejak sebelum Puasa hingga diprediksi naik menjelang Lebaran nanti. Untuk itu, banyak perusahaan mamin yang telah meningkatkan kapasitas produksinya. Peningkatan kapasitas ini umumnya sudah dilakukan sejak tiga bulan sebelum Puasa dan Lebaran.

Adhi menambahkan, perusahaan mamin juga berlomba-lomba menyuguhkan produk yang menarik bagi konsumen. Tujuannya, agar produk tersebut bisa lebih laku di pasaran. “Salah satunya dengan memberikan kemasan spesial untuk produk yang akan mereka jual. Promo juga banyak selama puasa dan lebaran yang menarik perhatian,” ujar dia.

Dikatakan, penjualan akan kembali melambat setelah Lebaran dan naik kembali saat Natal dan mendekati Tahun Baru. Industri mamin hingga kini masih menjadi industri andalan karena menyerap tenaga kerja dan dijadikan percontohan untuk memasuki revolusi industri 4.0.

Adhi mengungkapkan, industri mamin mulai menerapkan program industri 4.0 di beberapa lini usahanya. Penerapan industri 4.0 ini diyakini memiliki banyak manfaat bagi industri dan dapat mengakselerasi pertumbuhan bisnis perusahaan.

Dia mengatakan, industri mamin yang mulai menerapkan revolusi industri ini adalah perusahaan besar yang memiliki cukup modal. Namun, belum ada industri mamin yang sepenuhnya menerapkan industri 4.0 hingga 100% dalam kegiatan usahanya. “Tapi, ada yang mulai dari bagian produksinya dulu, logistik, atau penjualan,” terang dia.
Dia optimistis, akan makin banyak industri mamin yang menerapkan sistem 4.0 di tahun 2019. Terlebih, jika insentif fiskal berupa super deductable tax dapat segera disetujui.

“Kalau insentif fiskal itu sudah keluar, pasti akan lebih banyak yang mengimementasikannya,” ujarnya seperti ditulis ID.

Insentif super deductible tax akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi. Bagi industri yang melakukan pelatihan dan pendidikan vokasi, akan diberikan pengurangan pajak sebesar 200%, sedangkan industri yang melakukan kegiatan litbang atau inovasi mendapat pemotongan pajak sebesar 300%.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan, pihaknya telah mengusulkan skema super deductible tax kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurut dia, penerapan super deductible tax sejalan dengan inisiatif di dalam peta jalan (roadmap) Making Indonesia 4.0.

“Pemberian fasilitas ini selain melengkapi insentif fiskal tax allowance dan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional agar siap menuju revolusi industri 4.0,” ungkap dia.

Dengan implementasi Industri 4.0, menurut dia, memiliki beberapa keunggulan, diantaranya kesiapan menjadi 10 besar ekonomi di dunia pada tahun 2030, sebanyak 10% ekspor berkontribusi kepada GDP, mencapai dua kali lipat produktivitas, dan sekitar 2% kegiatan litbang untuk GDP. [AF-05]

agrifood.id // agrifood.id@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*