Pemerintah Tingkatkan Kemitraan Industri Makanan-Minuman dengan Petani

Keripik singkong yang siap dipasarkan.

Bogor, Agrifood.id – Kementerian Perindustrian aktif mendorong para pelaku industri makanan dan minuman (mamin) berbasis agro untuk bersama mengembangkan rantai pasok melalui pola kemitraan dengan petani dan kelompok usaha tani, termasuk penerapan teknologi revolusi industri 4.0. Konsep yang disebut Corporate Shared Value (CSV) ini diharapkan bisa ikut menyejahterakan para petani serta memacu peningkatan daya saing global sektor industri mamin.

“Dibandingkan dengan negara lain, sektor makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya pertanian yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya, pekan lalu.

Airlangga menyampaikan hal itu saat peluncuran Kawasan Industri Hortikultura Didukung Aplikasi Industri 4.0 dan Pelepasan Ekspor di Tanggamus, Lampung. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, kini menjadi salah satu kawasan penghasil produk hortikultura terutama pisang mas, jambu, pepaya, dan nanas.

PT Great Giant Pineapple (GGP), sebagai perusahaan swasta terbesar penghasil produk hortikultura di Indonesia, melakukan ekspansi bisnis di Kabupaten Tanggamus dengan konsep CSV. Konsep kolaborasi ini dijalankan bersama dengan petani dan kelompok usaha tani setempat melalui Koperasi Usaha Tani.

“Kawasan industri hortikultura di Tanggamus ini merupakan sebuah kawasan terobosan yang menjadi proyek percontohan untuk pengembangan kawasan lainnya di Indonesia,” papar Menperin.

Apalagi, lanjutnya, adanya kolaborasi antara masyarakat petani dengan perusahaan PT GGP yang memang sudah unggul di sektor hortikultura. Menurut Airlangga, konsep CSV memberikan ruang bagi para petani untuk mengembangkan hasil pertanian dari kebun sendiri.

“Kebetulan tanamannya cocok untuk wilayah Indonesia, seperti nanas dan pisang. Melalui CSV atau jenis usaha berbagi ini, korporasi akan menyediakan bibit, melakukan pendampingan dan membantu ekspor, yang harapannya petani mendapatkan untung. Kami dapat laporan dari koperasi, masyarakat bisa mendapatkan Rp 5-6 juta dalam satu bulan,” imbuhnya.

Untuk itu, seperti ditulis Antara, konsep tersebut akan terus diupayakan Kemenperin agar semakin ditingkatkan. Apalagi, sejalan dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo di mana pengembangan kawasan yang dimiliki masyarakat dan pengusaha membantu memfasilitasi dari segi produksi, penanaman, panen sampai dengan ekspor. “Rencananya ada ekspor pisang satu kontainer setiap bulan,” lanjutnya.

Konsep CSV di Kawasan Berikat ini telah didukung Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan sehingga pupuk dan pestisida yang berasal dari PT GGP dapat digunakan oleh petani binaan tanpa subsidi apapun dari pemerintah, namun dengan syarat tidak adanya inventory di petani. Langkah strategis tersebut untuk membantu petani dalam memantau kegiatan on-farm, termasuk pemakaian pupuk dan pestisida, yang telah dikembangkan melalui aplikasi berbasis Internet of Things (IOT) yang dinamakan e-Grower.

Melalui aplikasi itu, kegiatan on-farm seluas 337 hektare dengan jumlah petani sebanyak 423 orang di 4 Kabupaten Provinsi Lampung yang menjadi mitra PT GGP, dapat dipantau secara real time hingga jumlah panen yang dapat diekspor. “Pemerintah mengapresiasi kawasan ini dapat diperluas lagi sehingga tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanggamus, terlebih lagi dengan diterapkannya teknologi industri 4.0, serta ekspor satu kontainer atau senilai Rp 180 juta juga diharapkan terus rutin dan ditingkatkan jumlah ekspornya,” tuturnya. [AF-05]

agrifood.id // agrifood.id@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*